CURAHAN HATI

Lelah terkadang aku menjalani kehidupan yang begitu mengerikan ini. Terkadang ku takut akan jalan ku ke depan, kadang ku takut meninggalkan orang-orang yang mau dengan tulus menyayangiku, terkadang aku pun takut akan semua yang akan terjadi padaku nanti di saat ku tua, dan kamu pasti tertawa saat aku mengatakan bahwa aku takut akan kematianku sendiri, aku takut akan jiwaku yang hampa seakan tak memiliki roh keagungan tuk meyakini bahwa dunia selalu memberikan kenikmatannya pada setiap penghuninya, aku pun takut ketika kamu mengakui diriku yang begitu banyak sekali kelemahan yang kumiliki, aku begitu takutnya dan tak dapat terbendung. Hingga kapan aku mampu bertahan dalam ketakutanku dalam hidup ini. Ngomong-ngomong dengan ketakutan, paling mengerikan adalah saat aku tidak dapat mencintai orang yang sangat aku cintai, Bagaimana menurutmu? Sadarilah bahwa aku juga manusia yang memiliki hati ‘tuk mengerti bahwa kamu sendiri tak memiliki hati lagi? Aneh, Aku gak bisa merangkai kata pujangga dengan bahasa sastranya yang menawan dan dengan bahasa yang penuh banyak makna di dalamnya. Inilah goresan hatiku saat ini, setiap hari yang kurasakan adalah benar adanya. Tidak ada kutipan dari para tokoh, segelintir makna dari Chairil Anwar pun tak kutorehkan, cukup sederhana dan hanya perasaanku yang dapat memahami bahasa yang telah kutuliskan. Memang benar, katakan saja aku banyak bualan. Bukan hanya pria saja yang dapat berbual bukan? Sah-sah saja jika aku mampu dengan lidahku yang tak bertulang bergelut dengan segenap kuasa diri dan aku tak habis pikir karena semakin banyak aku bercurah semakin banyak pula kata-kata yang tak dapat dimengerti. Kemana arah aku berpikir kini? Gimana kalau sudahi saja, karena akan membuat pikiranmu sinting kurasa. HAHAHAHAH!!!

Sabtu, 17 Januari 2009

BERGAYA



KALAU KAU LAGI SENDIRIAN


kala kau terkurung dalam kesendirian lama
waktu hanya kan membawamu meniti rindu yang membukit
rawan terperosok jurang imajinasi tak membumi
hingga perlahan pasti semilir kegelisahan menimpa
membuatmu bertanya : akankah kesendirian berakhir segera?

maka jika tampak di mata
bocah kecil memanggil ibu pada teman sebaya,
hatimu teriris terluka
(terperosok dari bukit rindu ke kubangan putus asa).
kau pun berkata : ah, kenapa dulu ku berdiam terlalu lama?
kenapa ku ttunduk pada kejamnya kriteria?
kenapa saat cinta pernah ada, tak segera kugenapi agama?

lalu puisiku menyapa, mengetuk pintu hati
kemudian perlahan terbuka.